Halaman

Selasa, 07 September 2010

UNTUK SESEORANG YANG AKAN MENDAMPINGIKU NANTI....

Cinta....
Jika nanti Allah satukan kita
Kita akan terikat kuat dalam sebuah mahligai pernikahan
Menjalani suka dan duka bersama
Mengarungi bahtera rumah tangga berdua

Wahai Calon Imamku....
Aku bukan Aisyah yang cantik, cerdas dan anggun, istri kebanggaan Rasulullah
Aku juga bukan Khadijah yang sabar, lembut dan menyejukkan hati, cinta sejati Rasulullah
Aku hanya wanita tak sempurna yang ingin menyempurnakan hidupku bersamamu
Aku hanya wanita biasa yang hanya memiliki ketulusan untuk melayanimu dalam sisa nafasku

Sayang....
Andai setelah kita bersama nanti....
Ada bagian dari diriku yang tak kau sukai
Ada sifatku yang mengecewakanmu
Ada sesuatu yang membuatmu menyesal
Tetaplah cintai aku, jangan pernah kurangi kadarnya
Karena aku sudah bertekad untuk menerimamu apa adanya

Kasih....
Andai akupun belum bisa membuatmu tentram
Andai aku belum sesuai dengan apa yang kau inginkan
Andaikan kau anggap aku tak layak mendampingimu
Andaikan ternyata kelemahan dan kekuranganku mengganggumu
Tetaplah setia di sampingku, jangan pernah tinggalkan aku
Karena aku telah berjanji untuk mengabdikan jiwa dan ragaku untukmu

Engkau Calon Pendamping hidupku....
Kumohon padamu
Ingatkan aku akan setiap salahku, dengan kelembutanmu, bukan dengan amarah
Karena hatiku begitu halus, akan mudah tersakiti oleh amarah
Bimbing aku atas ketidaktahuanku, dengan kesabaranmu, bukan dengan cacian
Karena pikiranku begitu kekanakan, akan sulit tercerahkan dengan cacian
Arahkan aku dengan tutur kata manismu, bukan dengan pukulan bahkan tamparan
Karena diriku begitu rapuh, akan sulit tersembuhkan akibat pukulan dan tamparan

Engkau Calon Ayah dari Anak-anakku....
Aku ingin cinta kita menjadi satu
Asa kita lebur menyatu
Menjadi sebentuk doa untuk kebahagiaan kita
Kebahagiaan rumah tangga kita

Semoga Allah kekalkan cinta di antara kita
Membimbing kita menuju kemuliaan cinta
Mengizinkan kita untuk merasakan kebahagiaan
Di dunia juga di surga-Nya nanti
Amin....

Dariku, yang selalu menantikan kehadiranmu....:)

Minggu, 29 Agustus 2010

Sepenggal Asa, LPJ-ku di Sana

Kawan....
17 hari kita lalui bersama
Ada tawa di saat suka, ceria dan candapun warnai hari kita
Begitu juga air mata, di saat kerinduan akan sanak saudara membuncah

Kawan....
Sekejab lagi perpisahan menanti
Mungkin kini kehilangan itu belum terpatri
Hanya kebersamaan yang tumbuh di hati
Sungguh aku takut kawan, jika kau tlah pergi
Kerinduan itu pasti temani malamku
Hingga terbawa mimpi

Kawan....
Andai nanti jarak pisahkan kita
Sambung ikatan kita dengan doa
Andai nanti tak sekalipun kita bersua
Kuharap kau kenang aku dalam ingatmu
Karena kuyakin, kebersamaan antara kita adalah kenangan terindah

Selamat berjuang kawan!
Kau adalah urat nadi perubahan
Sematkan semangat itu di dadamu
Rubah dunia dengan tanganmu
Masyarakat telah menunggu baktimu
Dan kelak di Surga katakan padaku
Bahwa kau berhasil menjadi abdi negara pembaharu

(Villa Duta Kasih, 20 Agustus 2010 - Akhir pembelajaran Pola Pikir PNS)

Selasa, 11 Mei 2010

Keajaiban KESABARAN dan Kekuatan DOA Seorang ISTERI (Kisah Nyata)

Di Madinah ada seorang wanita cantik shalihah lagi bertakwa. Bila malam mulai merayap menuju tengahnya, ia senantiasa bangkit dari tidurnya untuk shalat malam dan bermunajat kepada Allah. Tidak peduli waktu itu musim panas ataupun musim dingin, karena disitulah letak KEBAHAGIAAN dan KETENTRAMANNYA. Yakni pada saat dia khusyu’ berdoa, merendah diri kepada sang Pencipta, dan berpasrah akan hidup dan matinya hanya kepada-Nya.

Dia juga amat rajin berpuasa, meski sedang bepergian. Wajahnya yang cantik makin bersinar oleh cahaya iman dan ketulusan hatinya.

Suatu hari datanglah seorang lelaki untuk meminangnya, konon ia termasuk lelaki yang taat dalam beribadah. Setelah shalat istiharah akhirnya ia menerima pinangan tersebut.

Sebagaimana adat kebiasaan setempat, upacara pernikahan dimulai pukul dua belas malam hingga adzan subuh. Namun wanita itu justru meminta selesai akad nikah jam dua belas tepat, ia harus berada di rumah suaminya. Hanya ibunya yang mengetahui rahasia itu. Semua orang ta’jub. Pihak keluarganya sendiri berusaha membujuk wanita itu agar merubah pendiriannya, namun wanita itu tetap pada keinginannya, bahkan ia bersikeras akan membatalkan pernikahan tersebut jika persyaratannya ditolak. Akhirnya walau dengan bersungut pihak keluarga pria menyetujui permintaan sang gadis.

Waktu terus berlalu, tibalah saat yang dinantikan oleh kedua mempelai. Saat yang penuh arti dan mendebarkan bagi siapapun yang akan memulai hidup baru. Saat itu pukul sembilan malam. Doa ‘Barakallahu laka wa baaraka alaika wa jama’a bainakuma fii khairin’ mengalir dari para undangan buat sepasang pengantin baru. Pengantin wanita terlihat begitu cantik. Saat sang suami menemui terpancarlah cahaya dan sinar wudhu dari wajahnya. Duhai wanita yang lebih cantik dari rembulan, sungguh beruntung wahai engkau lelaki, mendapatkan seorang istri yang demikian suci, beriman dan shalihah.
Jam mulai mendekati angka dua belas, sesuai perjanjian saat sang suami akan membawa istri ke rumahnya. Sang suami memegang tangan istrinya sambil berkendara, diiringi ragam perasaan yang bercampur baur menuju rumah baru harapan mereka. Terutama harapan sang istri untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah.

Setibanya disana, sang istri meminta ijin suaminya untuk memasuki kamar mereka. Kamar yang ia rindukan untuk membangun mimpi-mimpinya. Dimana di kamar itu ibadah akan ditegakkan dan menjadi tempat dimana ia dan suaminya melaksanakan shalat dan ibadah secara bersama-sama. Pandangannya menyisir seluruh ruangan. Tersenyum diiringi pandangan sang suami mengawasi dirinya.

Senyumnya seketika memudar, hatinya begitu tercekat, bola matanya yang bening tertumbuk pada sebatang MANDOLIN yang tergeletak di sudut kamar. Wanita itu nyaris tak percaya. Ini nyatakah atau hanya fatamorgana? Ya Allah, itu nyanyian? Oh bukan, itu adalah alat musik. Pikirannya tiba-tiba menjadi kacau. Bagaimanakah sesungguhnya kebenaran ucapan orang tentang lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Oh…segala angan-angannya menjadi hampa, sungguh ia amat terluka. Hampir saja air matanya tumpah. Ia berulang kali mengucap istighfar, “ALHAMDULILLAAHI ‘ALAA KULLI HAALIN”…Ya bagaimanapun yang dihadapi alhamdulillah. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala kegaiban. Bagaimanapun Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikannya karunia seorang suami.

Ia menatap suaminya dengan wajah merah karena rasa malu dan sedih, serta setumpuk rasa kekhawatiran menyelubung. "Ya Allah, aku harus KUAT dan TABAH, SIKAP BAIK KEPADA SUAMI ADALAH JALAN HIDUPKU..." Kata wanita itu lirih di lubuk hatinya. Wanita itu berharap, Allah akan memberikan hidayah kepada suaminya melalui tangannya.

Mereka mulai terlibat perbincangan, meski masih dibaluti rasa enggan, malu bercampur bahagia. Waktu terus berlalu hingga malam hampir habis. Sang suami bak tersihir oleh pesona kecantikan sang istri. Ia bergumam dalam hati, "Saat ia sudah berganti pakaian, sungguh kecantikannya semakin berkilau. Tak pernah kubayangkan ada wanita secantik ini di dunia ini." Saat tiba sepertiga malam terakhir, Allah ta’ala mengirimkan rasa kantuk pada suaminya. Dia tak mampu lagi bertahan, akhirnya ia pun tertidur lelap. Hembusan nafasnya begitu teratur. Sang istri segera menyelimutinya dengan selimut tebal, lalu mengecup keningnya dengan lembut. Setelah itu ia segera terdorong rasa rindu kepada mushalla-nya dan bergegas menuju tempat ibadahnya dengan hati melayang.

Sang suami menuturkan, "Entah kenapa aku begitu mengantuk, padahal sebelumnya aku betul-betul ingin begadang. Belum pernah aku tertidur sepulas ini. Sampai akhirnya aku mendapati istriku tidak lagi disampingku. Aku bangkit dengan mata masih mengantuk untuk mencari istriku. Mungkin ia malu sehingga memilih tidur di kamar lain. Aku segera membuka pintu kamar sebelah. Gelap, sepi tak ada suara sama sekali. Aku berjalan perlahan khawatir membangunkannya. Kulihat wajah bersinar di tengah kegelapan, keindahan yang ajaib dan menggetarkan jiwaku. Bukan keindahan fisik, karena ia tengah berada di peraduan ibadahnya. Ya Allah, sungguh ia tidak meninggalkan shalat malamnya termasuk di malam pengantin. Kupertajam penglihatanku. Ia rukuk, sujud dan membaca ayat-ayat panjang. Ia rukuk dan sujud lama sekali. Ia berdiri di hadapan Rabbnya dengan kedua tangan terangkat. Sungguh pemandangan terindah yang pernah kusaksikan. Ia amat cantik dalam kekhusyu’annya, lebih
cantik dari saat memakai pakaian pengantin dan pakaian tidurnya. Sungguh kini aku betul-betul mencintainya, dengan seluruh jiwa ragaku."

Seusai shalat ia memandang ke arah suaminya. Tangannya dengan lembut memegang tangan suaminya dan membelai rambutnya. Masya Allah, subhanallah, sungguh luar biasa wanita ini. Kecintaannya pada sang suami, tak menghilangkan kecintaannya kepada kekasih pertamanya, yakni ibadah. Ya, ibadah kepada Allah, Rabb yang menjadi kekasihnya. Hingga bulan kedepan wanita itu terus melakukan kebiasaannya, sementara sang suami menghabiskan malam-malamnya dengan begadang, memainkan alat-alat musik yang tak ubahnya begadang dan bersenang-senang. Ia membuka pintu dengan perlahan dan mendengar bacaan Al-Qur’an yang demikian syahdu menggugah hati. Dengan perlahan dan hati-hati ia memasuki kamar sebelah. Gelap dan sunyi, ia pertajam penglihatannya dan melihat istrinya tengah berdoa. Ia mendekatinya dengan lembut tapi cepat. Angin sepoi-sepoi membelai wajah sang istri. Ya Allah, perasaan laki-laki itu bagai terguyur. Apalagi saat mendengar istrinya berdoa sambil menangis.
Curahan air matanya bagaikan butiran mutiara yang menghiasi wajah cantiknya.

Tubuh lelaki itu bergetar hebat, kemana selama ini ia pergi, meninggalkan istri yang penuh cinta kasih? Sungguh jauh berbeda dengan istrinya, antara jiwa yang bergelimang dosa dengan jiwa gemerlap di taman kenikmatan, di hadapan Rabbnya.

Lelaki itu menangis, air matanya tak mampu tertahan. Sesaat kemudian adzan subuh. Lelaki itu memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini, ia lantas menunaikan shalat subuh dengan kehusyukan yang belum pernah dilakukan seumur hidupnya.

Inilah buah dari doa wanita shalihah yang selalu memohonkan kebaikan untuk sang suami, sang pendamping hidup.

Beberapa tahun kemudian, segala wujud PERTOBATAN lelaki itu mengalir dalam bentuk ceramah, khutbah, dan nasihat yang tersampaikan oleh lisannya. Ya lelaki itu kini telah menjadi DA’I besar di kota Madinah.

(Sebagaimana kiriman dari seseorang yang belum kutahu posisinya di hatiku:))

Rabu, 28 April 2010

SI HIJAU, BAIKNYA MEMANG KUIKHLASKAN

Masih tentang Si Hijau..., sandal jepitku. Dia hilang 29 Maret 2010 lalu. Saat kuturun dari musholla dinkes, tak lagi kutemukan Si Hijau ditempatnya. Hingga beberapa menit kutunggu, Si Hijau tak jua muncul. Dan akhirnya aku kembali ke ruang kerjaku dengan meminjam sandal teman.
Selang beberapa hari kemudian, salah seorang petugas jaga malam tampak memakai Si Hijau. Aku hanya diam. Esoknya penjaga malam itu menghampiriku dan menjelaskan semua yang telah terjadi dengan Si Hijau.Ternyata ada yang memakai dan meninggalkannya di halaman belakang dinkes. Karena penjaga malam itu tak tahu empu Si Hijau, dipakainya saja Si Hijau. Hari itu dia baru tahu dari teman seruanganku bahwa aku-lah empu Si Hijau. Dan akhirnya kuhadiahkan Si Hijau untuknya, kubilang: "Anggap saja sebagai kenang-kenangan!"
Kini aku benar-benar melepaskannya. Aku jadi tertampar dan merasa diingatkan kembali bahwa tak seharusnya aku terlampaui mencintai barang-barangku, karena barang-barang itu tidaklah kekal. Kini aku punya sahabat baru, Si Kuning namanya, sandal dengan merek dan model yang sama dengan Si Hijau. Bedanya hanya pada rasa kepemilikanku. Tak sekuat pada Si Hijau dulu...

APAKAH ADA BEDANYA ?

Apakah Ada Bedanya …
(Ebit G. Ade)

Apakah ada bedanya…
Hanya diam menunggu,
Dengan memburu bayang-bayang,
Sama-sama kosong,
Coba tuang ke dalam kanvas,
Dengan garis dan warna-warni,
Yang aku rindui.

Apakah ada bedanya…
Bila mata terpejam,
Pikiran jauh mengembara,
Menembus batas langit,
Cintamu telah membakar jiwaku,
Harum aroma tubuhmu,
Menyumbat kepala dan pikiranku.

Dibumi yang berduka,
Mesti ada gejolak,
Ikuti saja iramanya,
Isi dengan rasa,
Di menara langit,
Halilintar bersambut,
Aku merasakan terlindung,
Terbakar kegetiran,
Cinta yang kuberi sepenuh hatiku,
Entah yang kuterima,
Aku tak peduli…
Aku tak peduli…
Aku tak peduli…

Apakah ada bedanya,
Ketika kita bertemu,
Dengan saat kita berpisah,
Sama-sama nikmat,
Tinggal bagaimana,
Kita menghadapi,
Di belahan jiwa yg mana kita sembunyikan
Dada yang terluka…
Duka yang tersayat…
Rasa yang terluka…


Sobat, sebenarnya tak ada bedanya antara dua hal yang berantonim. Tinggal bagaimana kita menghadapinya. Sebagaimana lirik lagu di atas, pun antara siang dan malam, suka dan duka, miskin dan kaya, pria dan wanita, semua tercipta untuk melengkapi kehidupan kita. Tanpa salah satunya, kita takkan mungkin merasakan atau menemukan yang lainnya. Tanpa ada duka, kita tak akan pernah merasakan suka. Tanpa siang yang melelahkan, kita takkan bisa menikmati malam yang menenangkan. Si miskin akan termotivasi untuk mencari nafkah setelah melihat si kaya, begitupun si kaya yang akan selalu diperhalus hatinya saat menginfakkan sebagian hartanya untuk si miskin. Bayangkan juga jika di dunia hanya ada pria atau wanita saja! Pasti tak seindah jika ada keduanya. Allah sungguh Maha Adil bukan? Kita ikuti saja iramanya, selalu lakukan yang terbaik, apapun kondisi kita…:)

"Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan).
Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu".
(Ar-Rahman, ayat 7-8).

Senin, 01 Maret 2010

Titian_10_01_2009

Sulit memposisikan diri di tempat yang benar, jika dia mulai bicara 'rasa'.
Aku tak punya rasa itu, tapi nurani itu tetap ada.
Jika kuikuti nurani tuk bilang 'TIDAK', pasti dia kan tersakiti.
Tapi jika kubilang 'YA', ku'tak tega jika nuraniku menderita.
Sampai kini, aku masih ragukannya.
Tentu karena aku tak inginkannya.
Ingin segera kubilang 'TIDAK'! Tapi ku'tak kuasa.
Allah...,
andai hati ini harus menang, menangkan ia tanpa membawa luka pada hati yg laen....
Andai masih kelu juga lidah ini, bantu aku sampaikan apa yang kuinginkan....
Hingga diapun paham, aku juga inginkan orang terbaek, tuk temaniku, dalam sisa hidupku...

Selasa, 16 Februari 2010

AKU BANGGA MENJADI BAGIAN DARI BEM

Berawal dari sebuah keterkejutan besar yang tlah mampu membuat diri runtuh tak bertepi. Ya, sebuah keterkejutan ketika lamaran untuk menempati posisi Ketua PSDM ini dilontarkan oleh Sang Ketua BEM. Tanpa mampu tertahan, menetes satu-satu bulir air mata di pipi. Ya Allah, benarkah aku harus kembali berjibaku dengan BEM yang sudah 2 tahun turut membesarkanku? Bergelut dengan seabreg lika-liku tajam yang sungguh menguras energi dan waktuku? Dan haruskah peta hidupku berubah total dengan datangnya amanah baru ini? Ya Rabb, tiadakah pilihan lain yang mampu kuambil untuk keberlanjutan hidupku?

Malam-malamku tak lagi kering dengan air mata. Sungguh, sama sekali tak ada rencana untuk kembali bergabung di BEM tahun ini, apalagi untuk posisi ini. Beberapa kata penolakan pun tak mampu melunakkan hati Sang Ketua untuk mencabut lamarannya. Padahal jika Anda tahu, tak layak bagiku untuk amanah ini . Akhirnya, dengan berat hati, aku pun mulai menapakinya, tertatih, terseok, dan terkadang masih timbul keraguan besar dalam diri. Akankah aku mampu membawa semua pengurus BEM merengkuh tujuannya lewat amanah ini? Akankah aku mampu mengoptimalkan diri ini sampai akhir kepengurusan nanti? Satu kekuatan yang mampu membuatku tegar, masih ada Kau yang selalu mengiringi setiap langkahku dan memberikan kekuatan dalam setiap kelemahanku.

Kini, hari ini, 7 April 2007, 8 tahun sudah usia BEM FKM. Entah mengapa, keraguan itu tak ada lagi. Aku merasa telah menemukan duniaku yang sebenarnya. Ya, dunia organisasi, dunia PSDM yang banyak berjibaku dengan ’behavioral’. Jika kau tanya mengapa? Tentu masih karena-Nya. Tapi satu hal lagi yang mendorong perubahan ini. Dengan bangga kan kujawab: karena kehadiran kalian, pengurus BEM FKM 2007-2008. Selalu ada senyum saat melihat kemanjaan kalian. Selalu ada energi yang mengalir ketika merasakan semangat kalian. Selalu ada cinta ketika menyadari kerja keras kalian. Dan selalu ada kerinduan ketika teringat saat-saat kalian berebut makanan yang aku buatkan untuk kalian . Oh iya, ada lagi yang membuatku bertahan di sini, dukungan semua mahasiswa FKM di luar pengurus terhadap BEM. Makasih ya.... tanpa kepedulian dan partisipasi kalian dalam setiap kegiatan, BEM tak akan ada artinya.

Ternyata sebuah keterkejutan mampu membawaku menuju keteguhan. Sebuah keteguhan hati untuk mamantapkan pilihan bahwa BEM tahun ini bukan tempat yang salah bagiku, tapi sebaliknya, BEM adalah salah satu wadah untuk lebih mendewasakanku. Aku dapatkan banyak hal di sini. Pengalaman, motivasi belajar, teman, kegembiraan, kasih sayang, ketulusan dan masih banyak lagi. Dan kembali akan selalu kukatakan: ”Aku bangga menjadi bagian dari BEM.”

Harapanku untuk BEM, tetaplah tegar dalam kegalauan, tetaplah berkarya dalam kepenatan, tetaplah tersenyum dalam kepedihan, tetaplah kuat dalam keletihan dan berusahalah bangkit dalam keterpurukan. Kau ada karena kami ada dan kami seperti ini karena kau juga ada. Semoga dini usiamu tak pernah menyurutkan langkahmu menuju perjalanan panjang menuju BEM yang benar-benar maju.

Teruntuk pengurus BEM Tersayang, ’Ummi’ tahu perjalanan ini tidak mudah. Tapi bukankah kita sudah sepakat untuk mengawali dan mengakhiri kepengurusan BEM tahun ini dengan sesuatu yang indah? Tentu hal ini akan tercapai jika prosesnya pun juga berjalan indah. Jangan pernah pikirkan ’Apa yang bisa kita dapatkan di BEM?’ Tapi pikirkanlah ’Apa yang bisa kita berikan untuk BEM?’ Dengan begitu, kita kan mampu berusaha mengoptimalkan potensi untuk mengabdi dengan sepenuh hati. Ketika kau mulai lelah, ingatlah bahwa kau memang hanya manusia biasa. Tapi juga ingatlah bahwa kalian adalah orang-orang yang terpilih. Tetap semangat, hapus semua keraguan, ada Allah di sana yang kan selalu memudahkan setiap urusan kita. Senyum dan sayang untuk kalian.

Terakhir, Met Ultah ya.... BEM. Jangan lupa traktirannya! Kadonya nyusul.... Hehe...:-D

Ka PSDM BEM FKM Unair ’07-’08
Dipublikasikan kembali untuk sekedar berbagi...

343 HARI PERJUANGAN MENCARI 'CINTA'

Jika sebuah perhatian mampu hapuskan luka, maka ku’tak mau dia sirna sisakan kecewa
Jika setiap kerinduan berawal dari rasa membutuhkan, maka kumohon jangan pernah tinggalkan diri sendirian
Jika getar ini karena ku begitu menyayangimu, maka takkan pernah kubiarkan ia berhenti bergetar
Jika kebersamaan di antara kita adalah kisah terindah, maka tetaplah kenang meski harus berpisah


Pengurus BEM-ku Tersayang,
Genap 343 hari kebersamaan kita di BEM FKM Tercinta sejak pelantikan 13 Maret 2007 lalu. 343 hari yang selalu menghadirkan kisah suka dan duka di antara kepenatan kuliah dan seabreg kesibukan untuk mengawal kemajuan BEM kita. Meski semua yang kita perjuangkan hampir tak pernah mulus, kuyakin karena kebersamaan di dalamnyalah ikatan hati di antara begitu terpaut indah.

Wahai penghuni sebagian relung hati,
Tak perlu lagi kutanyakan seberapa besar pengorbanan kita untuk pertahankan BEM tercinta, rumah kecil kita. Waktu, tenaga, air mata bahkan materi tak terhitung nilainya. Namun, semua itu telah tergantikan dengan moment-moment indah di sepanjang perjalanan kita. Jujur aku tak pernah berkeinginan untuk meninggalkan rumah kita secepat ini. Bukannya aku khawatir akan penerus kita nanti, bukan. Aku hanya khawatir suatu saat nanti aku kan begitu merindukan kebersamaan kita, semangat kalian, gelak tawa dan tangis yang tercipta serta kemanjaan kalian dan juga sebutan ‘ummi’ yang tak mungkin pernah kulupakan.

Teruntuk sahabat-sahabatku seperjuangan, pengurus angkatan 2004,
Merupakan tantangan bagi kita ketika harusnya kita mulai fokus dengan kuliah tapi kepengurusan ini menuntut kita untuk selalu siap sedia memberikan seluruh potensi yang ada. Tapi sepanjang kepengurusan ini, jarang sekali kalian mengeluh akan tantangan kita di BEM. Terima kasih atas semua pengorbanan kalian. Terima kasih karena telah membantu membuat kepengurusan ini utuh.

Untuk Pak Hafidh: Maafkan bila saya tak sempurna. Maaf juga bila PSDM masih belum mampu menjadi sosok ibu yang sempurna bagi pengurus-pengurus BEM kita. Terima kasih telah mempercayakan PSDM pada saya. Terima kasih atas kado amanahnya. Semoga kita masih bisa berjuang bersama nanti…!
Untuk Pak Ilham: Maaf bila keluh-kesah saya sering mampir ke hp Anda. Selama pak Hafidh sibuk dengan urusan lain, Andalah sasaran saya berikutnya untuk mengutarakan semua masalah yang terjadi di rumah kecil kita. Semangat Anda untuk membuat rumah kita utuh merupakan suplai energi yang besar dalam diri saya. Terima kasih atas semua rasa tenang yang Anda ciptakan di antara kekalutan saya.
Untuk Riche: Maaf ya jika PSDM pernah tidak taat aturan sekretaris. Bukan karena sengaja, tapi mungkin karena terlalu banyak hal yang kami pikirkan hingga sering kami tak kumpulkan surat keluar. Tetap semangat ya..!
Untuk Nia: Perhatianmu luar biasa. Ketiadaanmu bukan berarti kau melupakan amanah, tapi karena semua telah kau urus dengan sempurna. Senang bisa bekerja sama dengan wanita berkarakter baja sepertimu.
Untuk Tias: Panggilan Ummi pertama kali muncul darimu. Mulanya kumerasa risih, tapi ini adalah kado terindah buatku. Maaf jika PSDM belum banyak berkontribusi sesuai dengan keinginanmu. Makasih atas semuanya.
Untuk Rahayu: Maaf kan semua salahku. Tetap back up P & K ya! Semangat!!!
Untuk Wahadi: Salah satu Sahabat dakwah terbaik yang pernah kumiliki. Maaf jika selama ini banyak merepotkan Antum. Taujih-taujih Antum mampu membuat ana menjadi sosok yang lebih tegar. Semangat Antum luar biasa. Tetap istiqomah Akhi! Allah adalah tujuan setiap perjuangan!

Untuk Adik-adikku Tersayang, yang takkan pernah tergantikan:
Kiki, Feli, Maman, Eva, Ria, Citra, Reni, Novita, Zuma, Novi, Lupi, Ihsan, Ubaid, Yeyen, Anja, Putri, Sarah, Okta, Anjar, Ariek, Septi, Indah, Ike, Lilik, Yuri, Yuana, Andhika, Susi, Ana, Oktria, Ratri, Yunita, Aisyah, Sindy, Arif, Dwi Yana, Saiku, Aan, Maria, Mariani, Esrawati, Ernawati, Vivi, Jalu, Syamsul, Susi dan yang belum tersebut: tetap semangat ya sayang! Terima kasih kalian telah meletakkan PSDM di tempat yang kami inginkan. Kerja keras kalian begitu luar biasa. Kalian adalah kader-kader BEM terbaik. Mbak yakin, di tangan kalianlah BEM kita akan bertambah maju. Jaga rumah kecil kita ya Cinta! Mbak titip adik-adik kalian 2006 dan 2007. Mereka adalah aset bagi BEM kita tercinta. Jaga, cintai, berikan perlindungan bagi mereka. Jangan pernah kecewakan mbak ya!
Untuk si kecil 2006:
Nasria, Nurul, Umi, Tri, Ayu, Dewi, Nova, Diana, Deltu, Risma, Dani, Mabruri, Tiche, Rohmat, Ema, Tita, Bunga, Ratih, Meitha, Ruby, Widya, Edo, Ajeng, Aang, Indah, Dianti, Atha, Reza, Ukki, Dwi Priyono, Ase, Retno, Teguh, Dimas, Annisa, Santia, Desy, Aditiyas, Risa, Rofiekur, Ella, Nima dan semua yang belum mbak sebutkan: Makasih ya Cinta atas karya-karya yang sudah kalian buat. Panggilan Ummi yang selalu kalian sematkan. Mbak merasa berharga jika berada di antara kalian. Tetep pinter ya dek, nggak boleh nakal! BEM menunggu karya-karya dari tangan kecil kalian selanjutnya! Tetep semangat! kita tetep curhat-curhatan ya! Meski mbak sudah nggak ada di dekat kalian, percayalah bahwa sampai kapanpun kalian tetap menghuni sebagian relung hati mbak. Kan segera mbak sekat relung itu hingga kalian tak pernah pergi dari kehidupan mbak. Andai kalian tahu, mbak sangat menyayangi kalian!!! Kalian adalah semangat di saat mbak jatuh dan tersungkur.

Wahai pembawa cinta dan kenangan terindah,
Aku teringat suatu hal, pengundurdirianku sebagai Ketua PSDM dulu bukannya tanpa alasan. Aku ingin semuanya berubah, itu saja. Dan Alhamdulillah semua berjalan sesuai keinginanku. Pak ketu dan Pak waketu lebih memperhatikan pengurus dan BEM kita lebih solid.
Tak akan cukup rasanya jika kutuliskan semuanya di sini. Doakan aku mampu membuat sebuah tulisan untuk masing-masing orang di antara kalian ya!
Terima kasih untuk semua cinta yang telah kalian rangkai jadi 1 menjadi sebuah sebutan:
--“UMMI”--.

Sungguh, aku tak ingin mengakhiri semua ini dengan gelak tawa pertanda kelegaan akan pupusnya amanah berat yang selama ini terbebankan di pundak ini. Sebaliknya, aku ingin mengakhiri semua ini dengan tetesan air mata di pipi. Karena dengan begitu, aku merasa masih memiliki tanggung jawab untuk tetap mempertahankan kokohnya rumah yang telah kubangun ini meski kaki harus melangkah pergi. Dan saat detik itu berakhir, aku kan katakan: “Aku bangga menjadi bagian dari BEM kita Tercinta”, sambil menebarkan seulas senyuman tanda cinta dan kasih sayang untuk kalian, rekan-rekanku sesama pejuang.

Berawal dari kegelisahan, Berakhir dengan Cinta
Asma House, 20 Maret 2008
Dengan Cinta, Ummi’ yang selalu menyayangimu

Senin, 11 Januari 2010

CINTA......, DATANGLAH SUATU KETIKA

Dulu aku memang menyayangimu
Dulu kumemang selalu merindukanmu
Dulu ku enggan menghapus bayangmu
Dan dulu kau tak sedetik pun menghilang dari pikiranku
Tapi kini jangan kau banyak berharap
Dalam kegalauan ini
Takkan pernah lagi kukenang manis senyummu
Takkan terulang kerinduan akan lirikanmu
Sebab ku kini tak punya rasa
Rasa melayang bagai impian
Sebab ku kini tlah berusaha tegar
Tak lagi menggantungkan semua asa di pundakmu
Andai kau tahu rasa ini
Akankah kau kembali merayu
Mengikuti diri dan hatiku pergi
Hingga kau kembali menguasai relung ini
Tak kan aku biarkan
Tak akan aku biarkan semua itu terjadi
Dalam seberkas asa ku tlah bersumpah
Tak kan lagi ada kau dalam sukma
Biarkan semua berjalan tanpa hadirmu
Biarkan hanya ketegaran yang tersisa
Tanpa luka tanpa air mata
Dan kumohon
Datanglah suatu saat
Jika semua tlah pantas untuk kurasakan
Bila semua takkan membawa luka resah
Oh cinta.....
Andai kau tak pernah ada
Akankah indah dunia terasa
Akankah terhapus problema di dada
Oh rasa....
Andai kau tiada
Akankah tetap bermekaran si mawar di sana
Akankah tersenyum rembulan menyambut sang malam
Pergilah saat ku tak siap merengkuhmu
Datanglah saat ku tlah siap menyambutmu
Jangan biarkan kau tak halal untuk kurasakan
Hingga suatu saat nanti.........

Asma House 12/11/2009 18:15:08