Halaman

Rabu, 28 April 2010

SI HIJAU, BAIKNYA MEMANG KUIKHLASKAN

Masih tentang Si Hijau..., sandal jepitku. Dia hilang 29 Maret 2010 lalu. Saat kuturun dari musholla dinkes, tak lagi kutemukan Si Hijau ditempatnya. Hingga beberapa menit kutunggu, Si Hijau tak jua muncul. Dan akhirnya aku kembali ke ruang kerjaku dengan meminjam sandal teman.
Selang beberapa hari kemudian, salah seorang petugas jaga malam tampak memakai Si Hijau. Aku hanya diam. Esoknya penjaga malam itu menghampiriku dan menjelaskan semua yang telah terjadi dengan Si Hijau.Ternyata ada yang memakai dan meninggalkannya di halaman belakang dinkes. Karena penjaga malam itu tak tahu empu Si Hijau, dipakainya saja Si Hijau. Hari itu dia baru tahu dari teman seruanganku bahwa aku-lah empu Si Hijau. Dan akhirnya kuhadiahkan Si Hijau untuknya, kubilang: "Anggap saja sebagai kenang-kenangan!"
Kini aku benar-benar melepaskannya. Aku jadi tertampar dan merasa diingatkan kembali bahwa tak seharusnya aku terlampaui mencintai barang-barangku, karena barang-barang itu tidaklah kekal. Kini aku punya sahabat baru, Si Kuning namanya, sandal dengan merek dan model yang sama dengan Si Hijau. Bedanya hanya pada rasa kepemilikanku. Tak sekuat pada Si Hijau dulu...

APAKAH ADA BEDANYA ?

Apakah Ada Bedanya …
(Ebit G. Ade)

Apakah ada bedanya…
Hanya diam menunggu,
Dengan memburu bayang-bayang,
Sama-sama kosong,
Coba tuang ke dalam kanvas,
Dengan garis dan warna-warni,
Yang aku rindui.

Apakah ada bedanya…
Bila mata terpejam,
Pikiran jauh mengembara,
Menembus batas langit,
Cintamu telah membakar jiwaku,
Harum aroma tubuhmu,
Menyumbat kepala dan pikiranku.

Dibumi yang berduka,
Mesti ada gejolak,
Ikuti saja iramanya,
Isi dengan rasa,
Di menara langit,
Halilintar bersambut,
Aku merasakan terlindung,
Terbakar kegetiran,
Cinta yang kuberi sepenuh hatiku,
Entah yang kuterima,
Aku tak peduli…
Aku tak peduli…
Aku tak peduli…

Apakah ada bedanya,
Ketika kita bertemu,
Dengan saat kita berpisah,
Sama-sama nikmat,
Tinggal bagaimana,
Kita menghadapi,
Di belahan jiwa yg mana kita sembunyikan
Dada yang terluka…
Duka yang tersayat…
Rasa yang terluka…


Sobat, sebenarnya tak ada bedanya antara dua hal yang berantonim. Tinggal bagaimana kita menghadapinya. Sebagaimana lirik lagu di atas, pun antara siang dan malam, suka dan duka, miskin dan kaya, pria dan wanita, semua tercipta untuk melengkapi kehidupan kita. Tanpa salah satunya, kita takkan mungkin merasakan atau menemukan yang lainnya. Tanpa ada duka, kita tak akan pernah merasakan suka. Tanpa siang yang melelahkan, kita takkan bisa menikmati malam yang menenangkan. Si miskin akan termotivasi untuk mencari nafkah setelah melihat si kaya, begitupun si kaya yang akan selalu diperhalus hatinya saat menginfakkan sebagian hartanya untuk si miskin. Bayangkan juga jika di dunia hanya ada pria atau wanita saja! Pasti tak seindah jika ada keduanya. Allah sungguh Maha Adil bukan? Kita ikuti saja iramanya, selalu lakukan yang terbaik, apapun kondisi kita…:)

"Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan).
Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu".
(Ar-Rahman, ayat 7-8).