Halaman

Selasa, 16 Februari 2010

AKU BANGGA MENJADI BAGIAN DARI BEM

Berawal dari sebuah keterkejutan besar yang tlah mampu membuat diri runtuh tak bertepi. Ya, sebuah keterkejutan ketika lamaran untuk menempati posisi Ketua PSDM ini dilontarkan oleh Sang Ketua BEM. Tanpa mampu tertahan, menetes satu-satu bulir air mata di pipi. Ya Allah, benarkah aku harus kembali berjibaku dengan BEM yang sudah 2 tahun turut membesarkanku? Bergelut dengan seabreg lika-liku tajam yang sungguh menguras energi dan waktuku? Dan haruskah peta hidupku berubah total dengan datangnya amanah baru ini? Ya Rabb, tiadakah pilihan lain yang mampu kuambil untuk keberlanjutan hidupku?

Malam-malamku tak lagi kering dengan air mata. Sungguh, sama sekali tak ada rencana untuk kembali bergabung di BEM tahun ini, apalagi untuk posisi ini. Beberapa kata penolakan pun tak mampu melunakkan hati Sang Ketua untuk mencabut lamarannya. Padahal jika Anda tahu, tak layak bagiku untuk amanah ini . Akhirnya, dengan berat hati, aku pun mulai menapakinya, tertatih, terseok, dan terkadang masih timbul keraguan besar dalam diri. Akankah aku mampu membawa semua pengurus BEM merengkuh tujuannya lewat amanah ini? Akankah aku mampu mengoptimalkan diri ini sampai akhir kepengurusan nanti? Satu kekuatan yang mampu membuatku tegar, masih ada Kau yang selalu mengiringi setiap langkahku dan memberikan kekuatan dalam setiap kelemahanku.

Kini, hari ini, 7 April 2007, 8 tahun sudah usia BEM FKM. Entah mengapa, keraguan itu tak ada lagi. Aku merasa telah menemukan duniaku yang sebenarnya. Ya, dunia organisasi, dunia PSDM yang banyak berjibaku dengan ’behavioral’. Jika kau tanya mengapa? Tentu masih karena-Nya. Tapi satu hal lagi yang mendorong perubahan ini. Dengan bangga kan kujawab: karena kehadiran kalian, pengurus BEM FKM 2007-2008. Selalu ada senyum saat melihat kemanjaan kalian. Selalu ada energi yang mengalir ketika merasakan semangat kalian. Selalu ada cinta ketika menyadari kerja keras kalian. Dan selalu ada kerinduan ketika teringat saat-saat kalian berebut makanan yang aku buatkan untuk kalian . Oh iya, ada lagi yang membuatku bertahan di sini, dukungan semua mahasiswa FKM di luar pengurus terhadap BEM. Makasih ya.... tanpa kepedulian dan partisipasi kalian dalam setiap kegiatan, BEM tak akan ada artinya.

Ternyata sebuah keterkejutan mampu membawaku menuju keteguhan. Sebuah keteguhan hati untuk mamantapkan pilihan bahwa BEM tahun ini bukan tempat yang salah bagiku, tapi sebaliknya, BEM adalah salah satu wadah untuk lebih mendewasakanku. Aku dapatkan banyak hal di sini. Pengalaman, motivasi belajar, teman, kegembiraan, kasih sayang, ketulusan dan masih banyak lagi. Dan kembali akan selalu kukatakan: ”Aku bangga menjadi bagian dari BEM.”

Harapanku untuk BEM, tetaplah tegar dalam kegalauan, tetaplah berkarya dalam kepenatan, tetaplah tersenyum dalam kepedihan, tetaplah kuat dalam keletihan dan berusahalah bangkit dalam keterpurukan. Kau ada karena kami ada dan kami seperti ini karena kau juga ada. Semoga dini usiamu tak pernah menyurutkan langkahmu menuju perjalanan panjang menuju BEM yang benar-benar maju.

Teruntuk pengurus BEM Tersayang, ’Ummi’ tahu perjalanan ini tidak mudah. Tapi bukankah kita sudah sepakat untuk mengawali dan mengakhiri kepengurusan BEM tahun ini dengan sesuatu yang indah? Tentu hal ini akan tercapai jika prosesnya pun juga berjalan indah. Jangan pernah pikirkan ’Apa yang bisa kita dapatkan di BEM?’ Tapi pikirkanlah ’Apa yang bisa kita berikan untuk BEM?’ Dengan begitu, kita kan mampu berusaha mengoptimalkan potensi untuk mengabdi dengan sepenuh hati. Ketika kau mulai lelah, ingatlah bahwa kau memang hanya manusia biasa. Tapi juga ingatlah bahwa kalian adalah orang-orang yang terpilih. Tetap semangat, hapus semua keraguan, ada Allah di sana yang kan selalu memudahkan setiap urusan kita. Senyum dan sayang untuk kalian.

Terakhir, Met Ultah ya.... BEM. Jangan lupa traktirannya! Kadonya nyusul.... Hehe...:-D

Ka PSDM BEM FKM Unair ’07-’08
Dipublikasikan kembali untuk sekedar berbagi...

343 HARI PERJUANGAN MENCARI 'CINTA'

Jika sebuah perhatian mampu hapuskan luka, maka ku’tak mau dia sirna sisakan kecewa
Jika setiap kerinduan berawal dari rasa membutuhkan, maka kumohon jangan pernah tinggalkan diri sendirian
Jika getar ini karena ku begitu menyayangimu, maka takkan pernah kubiarkan ia berhenti bergetar
Jika kebersamaan di antara kita adalah kisah terindah, maka tetaplah kenang meski harus berpisah


Pengurus BEM-ku Tersayang,
Genap 343 hari kebersamaan kita di BEM FKM Tercinta sejak pelantikan 13 Maret 2007 lalu. 343 hari yang selalu menghadirkan kisah suka dan duka di antara kepenatan kuliah dan seabreg kesibukan untuk mengawal kemajuan BEM kita. Meski semua yang kita perjuangkan hampir tak pernah mulus, kuyakin karena kebersamaan di dalamnyalah ikatan hati di antara begitu terpaut indah.

Wahai penghuni sebagian relung hati,
Tak perlu lagi kutanyakan seberapa besar pengorbanan kita untuk pertahankan BEM tercinta, rumah kecil kita. Waktu, tenaga, air mata bahkan materi tak terhitung nilainya. Namun, semua itu telah tergantikan dengan moment-moment indah di sepanjang perjalanan kita. Jujur aku tak pernah berkeinginan untuk meninggalkan rumah kita secepat ini. Bukannya aku khawatir akan penerus kita nanti, bukan. Aku hanya khawatir suatu saat nanti aku kan begitu merindukan kebersamaan kita, semangat kalian, gelak tawa dan tangis yang tercipta serta kemanjaan kalian dan juga sebutan ‘ummi’ yang tak mungkin pernah kulupakan.

Teruntuk sahabat-sahabatku seperjuangan, pengurus angkatan 2004,
Merupakan tantangan bagi kita ketika harusnya kita mulai fokus dengan kuliah tapi kepengurusan ini menuntut kita untuk selalu siap sedia memberikan seluruh potensi yang ada. Tapi sepanjang kepengurusan ini, jarang sekali kalian mengeluh akan tantangan kita di BEM. Terima kasih atas semua pengorbanan kalian. Terima kasih karena telah membantu membuat kepengurusan ini utuh.

Untuk Pak Hafidh: Maafkan bila saya tak sempurna. Maaf juga bila PSDM masih belum mampu menjadi sosok ibu yang sempurna bagi pengurus-pengurus BEM kita. Terima kasih telah mempercayakan PSDM pada saya. Terima kasih atas kado amanahnya. Semoga kita masih bisa berjuang bersama nanti…!
Untuk Pak Ilham: Maaf bila keluh-kesah saya sering mampir ke hp Anda. Selama pak Hafidh sibuk dengan urusan lain, Andalah sasaran saya berikutnya untuk mengutarakan semua masalah yang terjadi di rumah kecil kita. Semangat Anda untuk membuat rumah kita utuh merupakan suplai energi yang besar dalam diri saya. Terima kasih atas semua rasa tenang yang Anda ciptakan di antara kekalutan saya.
Untuk Riche: Maaf ya jika PSDM pernah tidak taat aturan sekretaris. Bukan karena sengaja, tapi mungkin karena terlalu banyak hal yang kami pikirkan hingga sering kami tak kumpulkan surat keluar. Tetap semangat ya..!
Untuk Nia: Perhatianmu luar biasa. Ketiadaanmu bukan berarti kau melupakan amanah, tapi karena semua telah kau urus dengan sempurna. Senang bisa bekerja sama dengan wanita berkarakter baja sepertimu.
Untuk Tias: Panggilan Ummi pertama kali muncul darimu. Mulanya kumerasa risih, tapi ini adalah kado terindah buatku. Maaf jika PSDM belum banyak berkontribusi sesuai dengan keinginanmu. Makasih atas semuanya.
Untuk Rahayu: Maaf kan semua salahku. Tetap back up P & K ya! Semangat!!!
Untuk Wahadi: Salah satu Sahabat dakwah terbaik yang pernah kumiliki. Maaf jika selama ini banyak merepotkan Antum. Taujih-taujih Antum mampu membuat ana menjadi sosok yang lebih tegar. Semangat Antum luar biasa. Tetap istiqomah Akhi! Allah adalah tujuan setiap perjuangan!

Untuk Adik-adikku Tersayang, yang takkan pernah tergantikan:
Kiki, Feli, Maman, Eva, Ria, Citra, Reni, Novita, Zuma, Novi, Lupi, Ihsan, Ubaid, Yeyen, Anja, Putri, Sarah, Okta, Anjar, Ariek, Septi, Indah, Ike, Lilik, Yuri, Yuana, Andhika, Susi, Ana, Oktria, Ratri, Yunita, Aisyah, Sindy, Arif, Dwi Yana, Saiku, Aan, Maria, Mariani, Esrawati, Ernawati, Vivi, Jalu, Syamsul, Susi dan yang belum tersebut: tetap semangat ya sayang! Terima kasih kalian telah meletakkan PSDM di tempat yang kami inginkan. Kerja keras kalian begitu luar biasa. Kalian adalah kader-kader BEM terbaik. Mbak yakin, di tangan kalianlah BEM kita akan bertambah maju. Jaga rumah kecil kita ya Cinta! Mbak titip adik-adik kalian 2006 dan 2007. Mereka adalah aset bagi BEM kita tercinta. Jaga, cintai, berikan perlindungan bagi mereka. Jangan pernah kecewakan mbak ya!
Untuk si kecil 2006:
Nasria, Nurul, Umi, Tri, Ayu, Dewi, Nova, Diana, Deltu, Risma, Dani, Mabruri, Tiche, Rohmat, Ema, Tita, Bunga, Ratih, Meitha, Ruby, Widya, Edo, Ajeng, Aang, Indah, Dianti, Atha, Reza, Ukki, Dwi Priyono, Ase, Retno, Teguh, Dimas, Annisa, Santia, Desy, Aditiyas, Risa, Rofiekur, Ella, Nima dan semua yang belum mbak sebutkan: Makasih ya Cinta atas karya-karya yang sudah kalian buat. Panggilan Ummi yang selalu kalian sematkan. Mbak merasa berharga jika berada di antara kalian. Tetep pinter ya dek, nggak boleh nakal! BEM menunggu karya-karya dari tangan kecil kalian selanjutnya! Tetep semangat! kita tetep curhat-curhatan ya! Meski mbak sudah nggak ada di dekat kalian, percayalah bahwa sampai kapanpun kalian tetap menghuni sebagian relung hati mbak. Kan segera mbak sekat relung itu hingga kalian tak pernah pergi dari kehidupan mbak. Andai kalian tahu, mbak sangat menyayangi kalian!!! Kalian adalah semangat di saat mbak jatuh dan tersungkur.

Wahai pembawa cinta dan kenangan terindah,
Aku teringat suatu hal, pengundurdirianku sebagai Ketua PSDM dulu bukannya tanpa alasan. Aku ingin semuanya berubah, itu saja. Dan Alhamdulillah semua berjalan sesuai keinginanku. Pak ketu dan Pak waketu lebih memperhatikan pengurus dan BEM kita lebih solid.
Tak akan cukup rasanya jika kutuliskan semuanya di sini. Doakan aku mampu membuat sebuah tulisan untuk masing-masing orang di antara kalian ya!
Terima kasih untuk semua cinta yang telah kalian rangkai jadi 1 menjadi sebuah sebutan:
--“UMMI”--.

Sungguh, aku tak ingin mengakhiri semua ini dengan gelak tawa pertanda kelegaan akan pupusnya amanah berat yang selama ini terbebankan di pundak ini. Sebaliknya, aku ingin mengakhiri semua ini dengan tetesan air mata di pipi. Karena dengan begitu, aku merasa masih memiliki tanggung jawab untuk tetap mempertahankan kokohnya rumah yang telah kubangun ini meski kaki harus melangkah pergi. Dan saat detik itu berakhir, aku kan katakan: “Aku bangga menjadi bagian dari BEM kita Tercinta”, sambil menebarkan seulas senyuman tanda cinta dan kasih sayang untuk kalian, rekan-rekanku sesama pejuang.

Berawal dari kegelisahan, Berakhir dengan Cinta
Asma House, 20 Maret 2008
Dengan Cinta, Ummi’ yang selalu menyayangimu