Hari ini, Senin, 23 November 2009, dilaksanakan Apel pegawai di PEMDA Lumajang. Tidak seperti biasanya,apel hari ini begitu istimewa buatku. Bukan karena panasnya, itu sih biasa. Yang luar biasa adalah pesan yang terkandung dalam apel pagi ini. Yup, apel hari ini merupakan apel peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-45 Tahun 2009. Apel yang dipimpin langsung oleh Bupati Lumajang ini sungguh berkesan buatku. Ada pembacaan sambutan Menkes RI, menyanyikan Mars Desa Siaga dan Mars Hidup Sehat. Kesemuanya ini membuatku teringat kembali tujuanku ada di sini sekarang.
Dari awal, aku minta pada-Nya:
"Jika memang menjadi seorang PNS adalah hal yang terbaik buatku. Jika memang ketika menyandang gelar abdi negara membuatku semakin bermanfaat bagi sebagian besar umat. Jika memang dengan amanah ini aku mampu lebih dekat dengan-Mu. Maka, kumohon loloskan aku menjadi CPNS tahun ini. Tapi jika ini tak baik untukku, maka aku ikhlas memberikan tempat ini untuk orang lain yang lebih pantas."
Kini, hampir 6 bulan aku mengabdikan diri sebagai seorang abdi negara. Akhirnya, apa yang kupelajari di kampus dulu bisa kuamalkan di dunia nyata. Yang masih perlu kutanyakan pada diriku sendiri adalah:
"Sudah berapa perbaikan yang kubuat? Berapa umat yang kubantu untuk hidup lebih sehat? Berapa banyak doa yang kulantunkan untuk barokahnya pekerjaanku?". Dan masih banyak lagi pertanyaan serupa.
Aku memang bukan manusia sempurna. Tapi setidaknya aku ingin memberikan kesempurnaan untuk Lumajangku tercinta. Dan hari ini aku kembali sadar, Apel HKN ke-45 ini mengingatkanku akan tujuan awalku bergabung di tempat kerja baruku ini. Derajat kesehatan Masyarakat Lumajang harus makin meningkat! Aku harus berperan, sekecil apapun itu.
Teringat juga impianku bersama 3 SKM angkatan 2009:
"Tetaplah bermimpi, biar semangat tetap di dadamu! Pertahankan idealismemu! Mulai dari dirimu, Mulai dari yang terkecil, dan Mulailah saat ini!".
Subhanallah, kini aku kembali bertekad untuk berkarya sebaik mungkin. Semangat itu kembali membuncah. Lumajangku, tunggu karyaku!!!
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (QS. Ash Shaff: 10 - 13)
Dan semoga tiap tetes keringatku mampu menjadi titian ke surga-Mu....
Minggu, 22 November 2009
Selasa, 17 November 2009
SANDAL JEPITKU
Setiap hari, setelah nyampe kantor, aku selalu mengganti sepatuku dengan sandal jepit hijau yang kubeli di awal-awal kerja dulu. Selain lebih nyaman, aku merasa kantor menjadi rumahku sendiri saat kumemakai sandal jepit itu. Hehe...
Seperti hari-hari sebelumnya, hari inipun aku menunaikan Shalat Dhuhur di musholla Dinkes. Kebetulan setiap Senin-Rabu di Dinkes ada jadwal kuliah bidan. Tak heran jika mushollapun ramai dengan bidan-bidan yang ikut shalat. Sandal jepitku masih setia mengantarku Shalat Dhuhur hari ini. Kuparkir rapi si hijau di bawah musholla. Selesai shalat, akupun segera turun dari musholla yang terletak di lantai 2 itu. Sesampainya di bawah, ternyata sandal jepit hijauku tidak lagi di tempat semula. Usut punya usut, eh si hijau dipakai oleh salah seorang bidan untuk berwudhu.Bukan hal yang baru memang, hal yang sama sering terjadi. Dan kupikir ini adalah hal yang bisa dimaklumi.
Tak berapa lama bidan itu datang dan aku bersiap untuk kembali ke ruang kerjaku. Lalu,... Lho kok bidan yang lain langsung memakai si hijau untuk berwudhu tanpa izin dariku!!!:/ Allah, rupanya ujian kesabaranku belum habis. Tanpa kata, kutunggu saja bidan itu kembali dari berwudhu. Lama, dia masih masuk toilet, masih ngobrol dengan sesama bidan. Haduh, lama banget! Ingin rasanya kuhampiri dan bilang: "Maaf Bu,saya pemilik sandal hijau yang njenengan pakai." Entah kenapa, kuurungkan niat itu, kumencoba tetap sabar.
Akhirnya orang yang ditunggu-tunggu muncul. Kulemparkan senyum padanya. Setelah dia naik, kupakai sandal jepitku. Bu Bidan tadi berkata: "Lho, punya mbak to? Koq nggak bilang dari tadi?" Kujawab saja:"Ah, nggak papa koq Buk." (sambil kembali tersenyum padanya).
Subhanallah, aku merasa hari ini aku lulus ujian kesabaran. Ada kebahagiaan yang menyeruak. Semoga Allah menggantikan kesabaranku dengan sesuatu yang lebih baik. Allah, dampingiku selalu untuk belajar bersabar:)
"Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." (QS. Fush Shilat:35).
Seperti hari-hari sebelumnya, hari inipun aku menunaikan Shalat Dhuhur di musholla Dinkes. Kebetulan setiap Senin-Rabu di Dinkes ada jadwal kuliah bidan. Tak heran jika mushollapun ramai dengan bidan-bidan yang ikut shalat. Sandal jepitku masih setia mengantarku Shalat Dhuhur hari ini. Kuparkir rapi si hijau di bawah musholla. Selesai shalat, akupun segera turun dari musholla yang terletak di lantai 2 itu. Sesampainya di bawah, ternyata sandal jepit hijauku tidak lagi di tempat semula. Usut punya usut, eh si hijau dipakai oleh salah seorang bidan untuk berwudhu.Bukan hal yang baru memang, hal yang sama sering terjadi. Dan kupikir ini adalah hal yang bisa dimaklumi.
Tak berapa lama bidan itu datang dan aku bersiap untuk kembali ke ruang kerjaku. Lalu,... Lho kok bidan yang lain langsung memakai si hijau untuk berwudhu tanpa izin dariku!!!:/ Allah, rupanya ujian kesabaranku belum habis. Tanpa kata, kutunggu saja bidan itu kembali dari berwudhu. Lama, dia masih masuk toilet, masih ngobrol dengan sesama bidan. Haduh, lama banget! Ingin rasanya kuhampiri dan bilang: "Maaf Bu,saya pemilik sandal hijau yang njenengan pakai." Entah kenapa, kuurungkan niat itu, kumencoba tetap sabar.
Akhirnya orang yang ditunggu-tunggu muncul. Kulemparkan senyum padanya. Setelah dia naik, kupakai sandal jepitku. Bu Bidan tadi berkata: "Lho, punya mbak to? Koq nggak bilang dari tadi?" Kujawab saja:"Ah, nggak papa koq Buk." (sambil kembali tersenyum padanya).
Subhanallah, aku merasa hari ini aku lulus ujian kesabaran. Ada kebahagiaan yang menyeruak. Semoga Allah menggantikan kesabaranku dengan sesuatu yang lebih baik. Allah, dampingiku selalu untuk belajar bersabar:)
"Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." (QS. Fush Shilat:35).
SI TUKANG KAYU DAN RUMAHNYA
Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah
perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut
pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan
penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah.
Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian
bersama istri dan keluarganya.
Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya.
Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah
untuk dirinya.
Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu.
Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak
sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma
menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta.
Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri
kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.
Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia
menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu, ”
katanya, “hadiah dari kami.”
Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya
saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya
sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali.
Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya
sendiri.
Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang
membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha
ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian
terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir
perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan
menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri.
Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini
dengan cara yang jauh berbeda.
Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita
bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding
dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah
hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya
hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh
keagungan dan kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup
kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari
perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan
masuk dalam barisan kemenangan.
perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut
pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan
penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah.
Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian
bersama istri dan keluarganya.
Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya.
Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah
untuk dirinya.
Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu.
Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak
sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma
menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta.
Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri
kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.
Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia
menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu, ”
katanya, “hadiah dari kami.”
Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya
saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya
sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali.
Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya
sendiri.
Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang
membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha
ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian
terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir
perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan
menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri.
Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini
dengan cara yang jauh berbeda.
Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita
bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding
dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah
hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya
hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh
keagungan dan kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup
kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari
perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan
masuk dalam barisan kemenangan.
Langganan:
Postingan (Atom)